Royal Enfield Jogja-Bali, 1057 Kilometer, 4 Hari Menjejalah Jalur Selatan..

perjalanan yang mengasyikan...

Denpasar-Royal Enfield menjadi salah satu sponsorship dalam gelaran Kustom Festival No Boundaries 2017 yang telah diselenggarakan di Yogyakarta (7-8/10). Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Royal Enfield dalam acara Kustom Festival adalah riding yang terbuka untuk masyarakat umum dan media ride khusus untuk wartawan. Rute yang dipilih JEC – Parangtritis – Panggang dan kembali ke JEC. Dalam acara Kustom Festival saat itu, total ada 3 sesi acara riding yang diselenggarakan PT Distributor Motor Indonesia selama acara Kustom Festival berlangsung (7-8/10).

ketika start dari plengkung gading…
kondisi jalanan apapun siap nih motornya…

Seusai hajatan Kustom Festival 2017 tersebut, acara riding dilanjutkan untuk kalangan sendiri. pada kesempatan tersebut, tujuan riding adalah Jogjakarta menuju Bali dengan 2 jenis tipe motor yaitu Royal Enfield Classic 500 dan Bullet 500. Rute yang dipilih adalah Jalur Lintas Selatan yang ditempuh selama 4 hari 3 malam.

“Kegiatan riding ini sekaligus memfasilitasi teman-teman yang tujuannya ke Bali setelah berkunjung diacara kustom festival. Intinya fun riding jadi kegiatan riding di malam hari diminimalisir. Selain itu kita juga bisa mengeksplore tempat yang indah dan jarang dikunjungi,” ujar Didi Fauzy selaku Marketing & Partnership PT. Distributor Motor Indonesia.

rehat sejenak menuju semanu

Dalam kelompok riding ini diikuti 4 orang, yaitu Ferry Kana sebagai road captain, Abrina salah satu ladiesbikers, Didi Fauzy sebagai Marketing & Partnership PT Distributor Motor Indonesia, dan saya sendiri sebagai perwakilan dari media.

Simak nih ceritanya. Perjalanan dimulai, dari Jogjakarta. Start pukul 9 pagi (10/10). Perjalanan dari alun-alun kidul, menuju pemberhentian pertama yaitu Pacitan. Sebelum berangkat bahan bakar 11 liter Pertamax yang diisikan ke dalam tangki motor yang saya tunggangi yaitu Royal Enfield Bullet 500, saat itu kilometer motor menunjukkan angka 3153 km.

mencari spot tersembunyi di jajaran pantai gunung kidul

Rute yang kami pilih menuju Imogiri, Panggang, melewati pantai-pantai kawasan Gunung Kidul untuk mendokumentasikan perjalanan kami dan menikmati keindahan alamnya. Sengaja kami memilih rute ini karena cukup lengang, dan memiliki tanjakan, turunan, dan tikungan yang tidak ekstrim sehingga kami bisa menikmati berkendara motor 500cc ini. Tidak lupa agar tenaga kami pulih, kami melakukan makan siang di daerah pantai Krakal, dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Semanu, dan memasuki jalur propinsi Jawa Tengah Pracimantoro, Giri Bangun dan masuk propinsi Jawa Timur.

mampir pantai tawang utk foto

Sebelum sampai penginapan kami kembali memenuhi tangki bahan bakar kami, saat itu angka kilometer menujukkan 3307 km, yang berarti kami telah melakukan jarak tempuh 157 km, dan hanya butuh 5 liter Pertamax untuk memenuhi tangki.

jalur pacitan menuju kepanjen nemu spot bagus di Pule setelah trek ekstrim

Hari kedua kami meninggalkan penginapan pukul 9 pagi menuju destinasi kedua yaitu kota Kepanjen, sebuah kota kecil di selatan Kota Malang. Perjalanan kami diiringi dengan teriknya sinar matahari sehingga cukup menguras tenaga. Masih menyusuri pantai selatan, kami melewati pantai Soge, dan melakukan pemberhentian di pantai Tawang serta melihat kompleks PLTU Sudimoro untuk melepas dahaga kami.

hostel di pacitan tempat bermalam

Kondisi jalan beraspal ini menanjak dan berliku, sayang jalan yang baru dibangun beberapa tahun lalu sudah mulai bergelombang. Selepas dari PLTU Sudimoro jalan mulai menurun, kami juga menyempatkan untuk melihat air terjun yang letaknya berdekatan dengan pantai, yaitu pantai Pelang di kabupaten Trenggalek. Keluar dari pantai Pelang kami pun dihadapkan dengan cobaan mental.

sebelum pule pantai pelang menikmati air terjun yang terletak disisi pantai

Pertama trek perbukitan Pule Trenggalek punya karakter tanjakan ekstrim serta kondisi jalan berlubang dan berbatu. Yang kedua saat kami melintasi rute bersamaan dengan jadwal pulang anak sekolah, sehingga kondisi lalu lintas cukup ramai. Selain itu saat ini sudah banyak anak sekolah menengah pertama yang menggunakan motor sebagai sarana transportasi, tak jarang beberapa anak mengundang emosi rombongan kami. Kondisi batin mulai lega saat kami sudah merasakan udara sejuk di perbukitan Pule. Kondisi jalan mulai membaik menjadi aspal dengan pemandangan hutan pinus dan sawah-sawah terasering.

Setelah menyusuri jalur ini kami pun sampai dipinggiran kota Trenggalek dan beristirahat sejenak untuk mengisi perut kami yang sudah keroncongan. Dari sini kami menuju kota Kepanjen melalui kota Tulung Agung, Blitar untuk beristirahat malam di kota Kepanjen. Mulai dari Trenggalek jalur yang kami tempuh adalah jalur logistik sehingga kondisi cukup padat bercampur dengan truk, bis, dan sarana transportasi lain. Kami pun tiba cukup malam sehingga waktu hanya kita gunakan untuk berbincang sejenak dan tidur. “Hari ini saya salut dengan Abrina, ia cukup mahir mengendarai Royal Enfield Classic 500. Terutama kondisi trek Pule yang kurang bersahabat,” ujar Ferry Kana yang ditugasi memimpin rombongan.

trek jalur lintas selatan menuju puger blum mulus

Setelah sarapan pagi kami melanjutkan perjalanan menuju pulau merah yang berada di kabupaten Banyuwangi. Sebelum itu saya kembali mengisikan bahan bakar sebanyak 9 liter untuk memenuhi tangki bahan bakar. Rute kami adalah Dampit, piket nol, dan menyusuri jalur lintas selatan yang baru dibangun, yaitu Kencong, Puger, Jember, Alas Gumitir, Genteng dan Pulau Merah. Menariknya jalur Kencong benar-benar bersebelahan dengan pantai. Pemandangan yang disajikan gumuk pasir seperti yang terdapat di Parangtritis. Namun bedanya tempat ini masih sepi dan belum terbuka untuk destinasi wisata. Sehingga saat melewati jalur ini kami puas untuk mengabadikan momen-momen kami.

Jalur lintas selatan kencong yang masih sepi

Namun sayang selepas dari Puger lalu lintas kembali ramai, saya sendiri sempat mengalami accident akibat pengendara yang lalai tanpa memperdulikan pengendara lain. Beruntung kondisi saya baik-baik saja, begitu juga motor yang saya gunakan cukup tangguh. Sehingga kerusakan dari kecelakaan bisa segera diatasi dan digunakan riding hingga Bali. Lagi-lagi kami tiba di penginapan Pulau Merah saat hari sudah petang, padahal misi kami menikmati Sunset di pulau Merah, namun karena fun riding dan safety riding yang kami tekankan, sehingga kami tidak ingin ada accident lain yang menimpa.

dalam ferri penyeberangan menuju gilimanuk.

Di hari keempat adalah hari terakhir dan target kami mencapai kota Denpasar. Seperti biasa BBM kembali dipenuhi untuk melanjutkan perjalanan, ada sebanyak 8 liter yang masuk dalam tangki. Perjalanan sampai pelabuhan Ketapang berjalan dengan baik. Hanya road capten kami Ferry Kana mengalami trouble pada gear belakang motor yang aus karena usia pemakaian. Namun begitu berkat pengalaman riding, ia berhasil sampai di bengkel resmi Royal Enfield di Bali untuk perbaikan.

gear belakang aus harus segera menuju denpasar untuk perbaikan

Sampainya di Gilimanuk target kami melewati dataran tinggi untuk melintasi Danau Tamblingan, Danau Beratan, dan Danau Buyan. Selepas dari Gilimanuk langsung saja kami mengarahkan stang motor kami menuju jalur Singaraja Gilimanuk, jalur ini cukup sepi dengan pemandangan pesisir pantai utara Bali. Hawa panas dan trek lurus cukup menguras tenaga kami, kurang lancarnya serapan udara dan peredaran darah sangat mudah menimbulkan efek mengantuk. Untuk menyegarkan fisik kami harus berhenti sejenak untuk menormalkan tubuh untuk mengembalikan  konsentrasi.

Hawa panas pun terbalas saat kami memasuki tanjakan Seririt Pupuan untuk menuju Danau Tamblingan. Udara segar dan panorama yang indah membuat kami bersemangat untuk mengabadikan momen kami berlatarkan bukit-bukit sekitar Gunung Bratan. Perlu dicatat jalur Seririt mempunyai tanjakan dan tikungan yang cukup ekstrim, namun untuk kami menjadi tantangan tersendiri. Sayang sampai di Danau Buyan kabut cukup tebal sehingga menyisakan waktu yang sangat singkat sebelum melanjutkan kota Denpasar.

di danau buyan kabut cukup tebal di sore hari

Sekitar pukul 8 kami tiba di Denpasar, sambil makan malam kami pun melakukan perhitungan perjalanan selama 4 hari. Total 1057 kilometer jarak yang kami tempuh dari Jogjakarta menuju Bali, dengan menghabiskan BBM sebanyak 33 liter dengan motor Bullet 500 yang saya gunakan. Jika dirata-rata motor ini mengkonsumsi hamper 32 km per liternya, amazing bro.    -ukky,ronald/dok:ukky-