Kegiatan Latber, Mulai Dapat Perhatian Lebih

Klaten, stangstir – Mungkin ini saatnya kebut lurus berformat latber mendapat perhatian ‘lebih’. Maksudnya  perhatian lebih dari pihak yang berkompeten di kompetisi balap roda 2, seperti Pemprov IMI Jawa Tengah.

Gaspol potensinya dianggap ancam level diatasnya

Ini dibuktikan dengan adanya lembar kertas yang berisi Peraturan Khusus Penyelenggaraan Latihan Bersama& Fun race : Grasstrack, Dragbike dan Balap Motor yang diebrukan oleh pihak regulator, yakni IMI pemprov Jawa Tengah. Lembar aturan itu disodorkan oleh Agung Setiawan, selaku penyelenggara GDS on Throttle Fun Dragbike yang dilaksanakan pada sirkuit GDS Jumat (27/1) lalu.

“Lembar ini diberikan ke saya oleh pemprov IMI jateng sekaligus mereka datang ke sini  (kabid roda 2 pemprov IMI jateng) mengecek memantau keadaan sirkuit GDS ini,” aku Agung dari GDS racing organiser ketika dijumpai pada gelaran GDS on Throttle Fun Dragbike Jumat (26/1) lalu.

Peraturannya

Isi dari lembar kertas itu adalah mengatur segala sesuatunya terkait kegiatan latber. Mulai dari kriteria kegiatan. Waktu dan venue pelaksanaan, lingkup peserta sampai batasan kontribusi peserta penonton di latber (lihat foto).

Agung melanjutkan, terkait aturan tersebut pihaknya mengapresiasi dengan baik. Tujuannya mengatur kegiatan latber yang bermanfaat. Penyelenggara tak semata mencari keuntungan dari peserta latber dan penonton saja, namun juga berimbas pada pembibitan pembalap.

Makanya dalam kegiatan fun dragbike di GDS, pihaknya selalu melibatkan wakil dari IMI untuk skrut dan mengawasi jalannya lomba. “Kan gelaran ini kami gelar setelah mendapatkan rekomendasi dari pemprov terkait. kalau enggak ada rekom ya kami enggak mungkin gelar,” tegas Agung panggilannya, yakin.

Memang ucapannya bukan sekedar omong. Apalagi berdasar data, event latber garapannya sudah sejak lama dihelat pada sirkuit permanen GDS. Yakni sejak tahun 2014 silam. Pernah pula pihaknya menghajat sebuah event kompetisi drag bike berseri selevel kejurda di sirkuit permanen itu.

Singkatnya sih memang aturan latber diperlukan. Apalagi karena belakangan makin marak kegiatan latber yang dibuat oleh komunitas.  Yang tak jarang kita enggak tahu, apakah itu resmi menggunakan  regulasi. Padahal kegiatan seperti itu juga bersinggungan dengan soal keselamatan pelaku latber maupun penonton.

“Buat kami latber bisa sebagai, uji coba motor, dan tes nyali untuk selanjutnya berkiprah di kompetisi. Kebetulan lagi di sini ada pula kontes modifikasi motor drag. ini yang membuat kami tertarik ikut datang,” aku Farra Queen, drag biker wanita yang sering ikut di ajang tersebut.

Kontes modif ini juga mengail minat
Ada juri kontes segala dan dikasih trophy

Melihat potensinya, latber kebut lurus ditengarai lebih ramai ketimbang kegiatan yang sama dengan level diatasnya. Contoh konkrit, latber GDS itu. Biaya pendaftarannya murah dan jadwal rundown penyelenggaraan lebih sering tepat waktu. Ini karena para pemula lebih mudah diarahkan untuk tertib.

Dengan banyaknya stater, banyak pula yang menonton, bisa jadi penyelenggara event akan melirik berminat gelar latber ketimbang event selevel diatasnya, yang masih gambling dari sisi perolehan peserta dan penonton. Padahal biayanya penyelenggaraan besar.

Bila itu terjadi, bukan tak mungkin event diatasnya akan kena imbas negatif. Yang akhirnya cenderung merugikan kegiatan yang kompetisi resmi yang sudah terjadwal di kalender event di daerah tersebut. yang artinya potensi latber seolah mengancam kompetisi resmi. Sepertinya, Inilah salah satu faktor alasan adanya aturan yang lebih detil terkait latber.

GDS Racing Organiser konsisten gelar latber

“Intinya enggak melarang kog. Bila semua syarat menggelar latber dipenuhi,” ujar seorang wakil dari pemprov Imi jateng yang saat itu dijumpai di GDS. Teks/Foto:Woer.